Menguatkan Kekuatan Pikiran

Leave a comment

manusia memiliki dua unsur yang membentuk kehidupannya. unsur fisik dan non fisik. unsur fisik adalah tubuh dengan panca inderanya sedangkan non fisik adalah pikiran dan hati. keduanya memiliki peran yang berbeda tetapi berada dalam satu bentuk yaitu diri kita. keduanya pun tidak dapat berdiri sendiri, satu sama lain saling bergantung.

Pikiran Bekerja

kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu yang hadir atas  diri kita adalah hasil apa yang telah kita ikirkan. tubuh kita hanya menjalankan perintah dari pikiran yang akan direspond oleh sekeliling alam dengan respond(feedback) yang sama. jika kita melakukan hal-hal yang positif maka alam pun akan menunjukan kepada kita hal positif, begitu sebaliknya. Itulah pikiranlah yang menguasai atas tubuhkita.

kita semua tahu akan permainan tetris, pikiran manusia pun sama seperti permainan tersebut. apa yang di masukan akan membentuk sebuah lapisan/ bentuk yang terus menerus menumpuk. jika kita ibaratkan, bentuk atau lapisan yang kita masukan adalah lapisan negatif maka secara otomatis akan terbentuk suatu kelompok lapisan negatif. berikut sebaliknya jika kita masukan hal-hal yang positif kita akan membentuk suatu bentuk pribadi yang positif. lapisan negatif itu contohnya : kemarahan, kebencian, ketakutan, kekhawatiran, kesombongan, iri hati, keegosisan, pesimis dan minder.

bisa dibayangkan jika kita memelihara lapisan negatif didalam pikiran maka secara otomatis lapisan negatif itulah yang akan mendominasi pikiran kita. tanpa disadari pun kita akan menarik semua energi negatif dari alam semesta kedalam diri kita. oleh karena itu jangan heran jika dikemudian hari kehidupan hanya berisi masalah, rintangan, keributan dan kegagalan.

jadi tugas kita adalah berusaha untuk memasukan hal-hal yang positif, bahkan hal-hal yangoptimis ke dalam pikiran. kenapa? karena segala sesuatu dengan ke optimisan, akan timbul kegiatan/tindak yang positif dan percaya diri. dan tanpa sadar sekeliling alam semesta akan mewujud dan mendukung atas apa yang kita kerjakan.

jadikanlah diri kita sebagai majikan atas pikiran

pikiran manusia sangatlah rapuh dan mudah goyah. pikiran kita seperti nyala api lilin di tengah-tengah hembusan angin yang datang dari berbagai arah. tugas ita adalah menjaga pikiran dari hal-hal yang positif.

isi ulang kembali pikiran

jangan pernah untuk meremehkan kekuatan pikiran kita. jika kita saat ini di landa depresi dan menganggap diri kita sebagai orang yang gagal, hati-hatilah karena pikiran akan mewujudkannya.

mari kita ubah cara berpikir yang seperti itu, olah menjadi pikiran yang positif.

Thomas Alva Edison harus mencoba berkali-kali sampai akhirnya dia berhasil menciptakan lampu. Namun dia tidak pernah mengatakan bahwa dia gagal. Dia selalu mengatakan : “I have not failed. I’ve just found 10.000 ways that won’t work.” Saya tidak gagal tetapi justru menemukan 10.000 cara yang tidak benar.

Katakan dan tanamkan di pikiran anda hal-hal yang ingin anda raih. Bayangkan anda telah berhasil melalui masalah yang sedang anda hadapi dan betapa anda merasakan kegembiraannya. Pikirkan hal-hal yang akan anda lakukan ketika semuanya telah ada di genggaman anda. Tanamkan di pikiran bahwa anda saat ini sedang menuju kesana dan akan berhasil. Bila perlu, anda bisa juga menyuarakannya dengan mulut anda sambil membayangkannya. Yang perlu diingat, gunakanlah bentuk kalimat yang positif. Misalnya, katakanlah “Saya adalah orang yang berhasil”. Jangan gunakan kalimat “Saya bukan orang yang gagal.” Berkacalah di cermin setiap pagi sebelum memulai hari anda, dan katakanlah :

– Tuhan sangat menyayangi saya.
– Hari ini saya akan melakukan pekerjaan-pekerjaan besar.
– Hari ini saya akan menghasilkan banyak hal baru.
– Saya akan menjadi orang berhasil.
– Saya akan meruntuhkan semua rintangan yang ada.
– Saya akan berhasil melewati semua masalah ini.
– Orang lain makan nasi, saya juga makan nasi. Jadi jika orang lain bisa, saya juga bisa.

Dengan memprogram ulang pikiran anda dengan hal-hal yang positif dan optimis, anda telah menggeser dominasi lapisan-lapisan negatif yang ada didalam pikiran anda. Kemudian, anda akan melihat dan merasakan begitu besar energi positif yang anda tarik disekeliling anda yang akan benar-benar mewujudkan apa yang ingin anda raih.

Advertisements

Kekuatan Hati dan Akal Sebagai Kunci Meraih Ilmu

1 Comment

Disadari atau tidak, begitu banyak hal yang terlewatkan begitu saja dalam perjalanan hidup kita. Pengalaman pribadi maupun orang lain atau fenomena alam yang bertaburan di alam semesta seharusnya dapat dipetik menjadi hikmah/ilmu. Namun ternyata tidak banyak manusia yang dapat mengambilnya, karena hikmah hanya dapat ditangkap oleh kekuatan hati dan akal.

Allah SWT sepertinya telah sengaja menciptakan hati manusia itu mudah berbolak-balik. Disatu saat kita merasa senang, disaat yang lain kita merasa susah; disuatu waktu mudah menerima disaat yang lain begitu keras menolak. Hati cenderung tidak konsisten. Namun tentu hal tersebut bukan berarti hati itu jelek, karena memang begitulah Allah telah menciptakannya untuk kita. Kita akan tahu, bahwa dengan sifat hati yang seperti itu, hati atau kalbu manusia menjadi sensitif terhadap apa yang tidak bisa dicapai oleh akal. Bahkan melalui kalbu inilah kita dapat merasakan dan dapat berhubungan dengan Tuhan Sang Pencipta Alam, serta dapat menangkap cahaya dan petunjuk-Nya.

Hati memang berbeda dengan akal. Akal cenderung bersifat analisis untuk mencerna informasi yang diperoleh dari pancaindra. Akal cenderung hanya mengindra hal-hal yang bersifat fisik/material saja, oleh karenanya kadang kesulitan untuk memahami hal-hal yang gaib. Akal cenderung kesulitan untuk menyingkap apa-apa yang tersirat dibalik sesuatu yang tersurat di alam semesta. Dalam hal ini akal memiliki keterbatasan.

Lain halnya dengan hati, hati yang terawat dapat dengan mudah menangkap Cahaya Ilahi yang sering mampir secara tiba-tiba tanpa disertai analisis, bahkan kadang tak terpikirkan sebelumnya. Kehadirannya datang bagaikan kilat, sehingga manusia tidak dapat menolak kehadirannya, tapi juga tidak dapat mengundangnya.

Kemampuan meraih petunjuk Ilahi ini memang sangat tergantung pada kualitas hati kita. Ada yang sedemikian kuatnya sehingga mudah menerima petunjuk-Nya, tetapi ada juga yang lemah, sehingga sangat sulit menerima petunjuk-Nya. Kita sebaiknya memang memadukan antara akal yang berkualitas dengan hati yang senantiasa terawat, sehingga zikir dan pikir dapat berjalan seiring, sehingga menghasilkan sesuatu yang paling berharga nilainya yaitu ilmu/hikmah.

Akal harus senantiasa diasah dengan mengaktifkan otak untuk menganalisa atau mengobservasi, sedangkan hati harus senantiasa kita pelihara untuk meyakini akan adanya Zat Yang Maha Pencipta dibalik semua fenomena alam yang ada.

Allah, dalam surat Al-Baqarah 269 menyatakan: “Allah menganugrahkan Al-Hikmah (ilmu) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugrahi Al-Hikmah itu, ia benar-benar telah dianugrahi karunia yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal.”

Wallahualambisawab.

Sumber : Buku Sentuhan Kalbu, karangan Ir. Permadi Alibasyah