Semenjak jaman dahulu kala, orang-orang bijak sudah menginsyafi bahwasanya manusia memiliki banyak keterbatasan dan kelemahan. Mereka menyadari bahwa ada kekuatan lain di luar dirinya yang lebih unggul, dan bahkan lebih mampu serta lebih berkuasa untuk menentukan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Termasuk menentukan apakah seorang manusia akan bernasib baik, ataukah justru bernasib buruk.

Demikian juga kekuatan yang sama akan menentukan apakah usaha seseorang akan sukses atau gagal, tidak perduli seberapa keras orang bersangkutan secara fisik berusaha.

Berdasarkan kesadaran itulah pada akhirnya, manusia menyertakan unsur doa sebagai wujud permohonan kepada “Sang Super Kuasa” agar diberi izin, restu serta dukungan atas segala daya upaya yang mereka lakukan.

Semboyan “Ora Et Labora” yang berarti “Berdoa dan Bekerja”, merupakan salah satu indikator pengakuan manusia atas kehadiran kekuasaan absolut yang dimiliki Tuhan, sebagaimana kalangan agama pun telah menghimbau umatnya agar bekerja disertai dengan doa setulus dan seintensif mungkin.

Sebagian besar orang awam mengekspresikan doa sebagai sarana komunikasi verbal, di mana semakin banyak dan semakin sering seseorang mengucapkan kata-kata pujian, sanjungan serta permohonan pada Sang Maha Kuasa, akan semakin besarlah kemungkinan doanya dikabulkan.

Itu sebabnya, sementara pemuka agama menganjurkan agar barang siapa yang ingin memperoleh keberhasilan dalam usaha atau sukses dalam kehidupan, hendaklah ia berdoa sebanyak-banyaknya disertai dzikir dengan mengucapkan kata-kata pujian sampai ratusan bahkan ribuan kali.

Sayangnya, dalam sekian banyak kejadian, orang sering mengalami kenyataan pahit, bahwa (menurut persepsinya sendiri) permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan walau pun mereka telah begitu banyak memanjatkan doa baik siang mau pun malam.

Adakah yang salah dengan doa verbal itu?

Menarik apa yang dikatakan oleh Bob Doyle, salah seorang pencetus konsep “Law Of Attraction” dalam komentarnya terhadap berbagai keluhan dari orang-orang yang merasa doanya ditolak Tuhan.

Bob mengemukakan bahwa pada dasarnya, Tuhan selalu mengatakan “ya!”, dan tidak pernah mengatakan “tidak!”. Dengan demikian, seharusnya setiap doa akan dikabulkan oleh Sang Penguasa Alam. Hanya saja, banyak orang yang menyusun kata-kata secara tidak selaras dengan sifat Tuhan yang selalu mengatakan “ya!” itu tadi.

Keluh-kesah dalam doa seperti: “Ya Allah! Kasihani diri hamba yang miskin ini! Hamba tidak punya uang! Hamba tidak mampu membayar hutang-hutang hamba..”, maka sebaliknya dari mendapatkan rejeki banyak, si pendoa justru akan benar-benar menjadi miskin, tidak punya uang serta tidak mampu membayar hutang. Sebab apa? Sebab, Tuhan meng”iya!” kan apa yang diucapkan orang tersebut!

Bob menekankan, bahwa bila kita menginginkan doa dikabulkan Tuhan, maka pertama-tama yang harus ditanamkan adalah “yakin dan percaya” bahwa kita memang benar-benar seperti apa yang kita minta.

Misalnya, kalau kita berdoa agar kita menjadi orang kaya, maka terlebih dahulu kita harus yakin dan merasakan diri sebagai orang kaya, dan Tuhan Yang Maha Esa akan meng”iya!”kan.

Barangkali kata-kata seperti ini akan lebih tepat: “Ya Tuhan, dengan kuasa dan izin Mu, Engkau jadikan hamba sebagai orang kaya. Amin..”